Oleh Nengsih, S.ST., M. Kes

Dosen Prodi D3 Kebidanan, STIKes Muhammadiyah Cirebon

 

Teknologi bagai pisau bermata dua, disatu sisi bermanfaat tapi di sisi lainnya berdampak buruk. Salah satu contoh kemajuan teknologi yang sangat pesat dan tidak mungkin kita tolak dalam kehidupan sehari-hari adalah alat komunikasi berbasis android yang hadir dengan sejuta fitur yang sangat menggoda bagi penikmat gadget.

Kemajuan teknologi sangat berdampak dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi menyentuh dan hadir hampir dalam setiap lini kehidupan, dengan tidak memperhatikan latar belakang dan status sosial kehidupan seseorang. Bagi orang-orang yang siap dengan kemajuan teknologi, maka mereka akan mampu menghadapi dan mengolah teknologi untuk kemajuan kehidupannya. Tetapi bagi mereka yang kurang siap dengan hadirnya kemajuan teknologi, maka hal tersebut justru menjadi bumerang baginya.

Kita dapat berselancar di dunia maya tanpa batas. Menghadirkan akses informasi yang sangat beragam. Akses media sosial yang semakin terbuka untuk semua kalangan. Kita dapat berteman dengan siapa saja dan tanpa terbatas jarak, ruang dan waktu. Teman virtual, sahabat virtual, bahkan kita tak sadar terjebak dalam kehidupan virtual. Yang terkadang kehidupan yang kita hadirkan dalam media sosial jauh dari kesan natural dalam kehidupan asli, atau dengan kata lain akses pencitraan sangat mungkin terjadi dalam iklim media sosial.

Dengan alasan mempermudah akses informasi, kita tidak sadar mengundang kejahatan yang menjelma nyata dalam keluarga kita. Kita memasang Televisi lengkap dengan segudang “saluran” yang sangat menarik, hampir tayang dalam 24 jam tanpa jeda, bahkan tanpa iklan. Kita menghadirkan PC keluarga lengkap dengan layanan internet tanpa batas. Seluruh keluarga dengan leluasa mengakses sumber-sumber informasi dengan sangat mudah, tanpa pengawasan, tanpa kontrol.

Sejatinya kita benar-benar sedang menghadirkan malapetaka yang besar dalam keluarga kita. Ketika orang tua sibuk bekerja, dengan dalih mencari nafkah sebagai kewajiban, mengamalkan ilmu sebagai kewajiban, mengabdi kepada lembaga sebagai kewajiban, dan semuanya dengan embel-embel sebuah kewajiban. Sementara anak-anak kita sedang asyik, khusyu membuka konten-konten yang awalnya biasa-biasa saja, namun belakangan berubah menjadi hal yang sangat mengerikan. Kita tidak dapat menutup mata. Sebut saja situs yang berisi game online dengan unsur kekerasan, pornografi dan penyimpangan seksual. Lambat laun, mereka menjadi penikmat situs-situs yang sangat tak beradab. Dan sekarang anak-anak sudah teracuni secara masif dan berubah menjadi anak yang berbeda dari biasanya. Dan mirisnya ada sebagian orang tua menghadirkan gadget untuk anaknya dengan alasan sebagai bentuk hadiah padahal anak belum memerlukannya sebagai kebutuhan, sebagai alat untuk membuat anak-anaknya duduk manis, diam dan tak banyak protes dan agar tidak mengganggu dan membuat repot ketika orang tua sibuk dengan suatu pekerjaan. Begitupun dengan televisi yang semakin hari semakin marak tontonan yang tidak mendidik. Banyak kekerasan seksual dan kekerasan fisik yang ada di tayangan menjadi lumrah, biasa dan terkesan wajar jika ditiru.

Kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi di Indonesia sangat miris, Indonesia masuk ke dalam kategori darurat kekerasan seksual pada anak, dilaporkan setidaknya ada 135 anak Indonesia menjadi korban kekerasan seksual yang terjadi setiap bulannya. Inilah salah satu dampak media yang masuk, merasuk kepada mereka yang tidak siap dengan kemajuan teknologi, akhirnya melahirkan emosi yang cacat, emosi yang tidak terkontrol, dan emosi yang mencederai masa depan, seperti fenomena gunung es, dan seperti rantai yang saling berkaitan antara media, pengelolaan emosi dan dampak buruk yang terjadi.

Adapun kasus game online yang sangat memungkinkan penikmatnya menjadi addicted. Game online juga dapat membawa pengaruh buruk dalam kehidupan anak dan remaja pada khususnya, menurut WHO pada tahun 2016 telah merilis dampak game online melalui penelitian setidaknya ada tiga dampak yang di akibatkan oleh kecanduan game online yaitu anak akan menarik diri dari lingkungan sosial sehingga anak menjadi terisolasi secara sosial, anak akan mudah kehilangan kendali terhadap emosinya dan cenderung menjadi tempramental dan menginginkan sesuatu dengan cara yang instan, anak akan kehilangan kepedulian atau kepekaan sosial.

Orang-orang yang tidak siap dengan kemajuan teknologi adalah mereka yang belum memiliki kebutuhan akan teknologi salah satunya Gadget, PC dengan konten game online dan lain-lain, misal masyarakat dengan sosial ekonomi serta pendidikan yang rendah, sehingga berdampak lemah terhadap fungsi pengawasan orang tua terhadap paparan media. Kepala Keluarga yang seharusnya memegang kendali utama di Indonesia 52% berlatar belakang pendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Dengan rendahnya pendidikan orang tua, memungkinkan berdampak rendah pula terhadap akses informasi media dan pengetahuannya, sehingga tidak dapat menjalankan fungsi perlindungan kepada anaknya, yang sewaktu-waktu dapat terpapar media yang buruk dilingkungan lain, misal lingkungan sekolah, lingkungan pergaulan anak-anaknya.

Jangan pernah bertanya dan merasa heran ketika suatu saat tiba-tiba anak kita menjadi anak yang tempramental, menjadi anak yang egois, menjadi anak yang gemar melakukan tindakan-tindakan tidak terpuji seperti menjadi pelaku bullying, mencuri dan berbohong atau menjadi pelaku terhadap tindak penyimpangan seksual. Itulah buah yang selama ini kita tanam. Jika sudah demikian maka cepatlah dan segera mengambil langkah “Digital of Detox”. Orang tua seyogyanya bermuhasabah, intropeksi dan mengoreksi pola pengasuhan yang selama ini di terapkan, kembali revitalisasi bersama pasangan untuk persamaan persepsi mau di bawa kemana masa depan anak-anaknya.

Upaya kolaboratif dalam menangkal dampak buruk media terhadap emosi anak yaitu pengelolaan yang terpresentasi dalam ecology cycle. Pertama, berawal dari keluarga, susun kembali pola pengasuhan dan tujuan pengasuhan yang berorientasi terhadap masa depan yang produktif.

Kedua, lembaga pendidikan, menghadirkan sistem pembelajaran yang terintegrasi baik aspek pengetahuan/intelektual, sosial, emosi dan spiritual yang tercermin dalam seluruh komponen pendidikan berbasis karakter.

Ketiga lingkungan, pada dasarnya kita dapat dikendalikan dan mengendalikan lingkungan. Pilih lingkungan yang ramah anak, dan mendukung dalam upaya perkembangan anak yang sehat baik fisik maupun mental.

Keempat masyarakat, berinteraksi sebagai makhluk sosial dengan memperhatikan etika dan moral.

Kelima media, semestinya mempunyai tanggung jawab dan andil dalam memberikan tontonan yang menjadi tuntunan, konten yang ramah anak, dan berisi informasi-informasi edukatif yang dikemas secara estetis dan menghibur. Terakhir adalah pemerintah, sepatutnya mempunyai regulasi-regulasi yang jelas, baik kepada media maupun terhadap pemakai.

Kita tidak dapat serta merta melarang anak untuk tidak mengakses sumber informasi, karena bagaimanapun anak berhak memperoleh informasi yang dilindungi oleh Undang-Undang. Pasal 10 UU nomor 35/2014 tentang perlindungan anak “setiap anak berhak menyatakan dan berhak didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usia demi mengembangkan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan”. Dengan demikian pemberian informasi kepada anak harus memenuhi hal : sesuai tingkat kecerdasan, sesuai usia, sesuai nilai kesusilaan sesuai kepatutan.

Adapun pasal tentang perlindungan anak dari pengaruh buruk media, pasal 15 UU nomor 44/2008 tentang pornografi “ setiap orang berkewajiban melindungi anak dari pengaruh pornografi dan mencegah akses anak terhadap informasi pornografi”. Pasal 38 ayat 3 Undang-Undang Penyiaran “ isi siaran wajib memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada khalayak khusus yaitu anak-anak dan remaja”.  Dengan demikian seharusnya kita sebagai orang tua merasa aman, jika semua pihak mengerti tentang regulasi tersebut. Tetapi nyatanya tidak. Banyak media-media dan fitur-fitur yang mengancam masa depan anak-anak kita. Di sinilah peran orang tua atau keluarga sebagai lini terkecil yang paling mudah melakukan perlindungan kepada anak.

Orang tua seharusnya mempunyai peranan dalam menghadapi dampak buruk media terhadap emosi anak yaitu membuat peraturan atau kesepakatan-kesepakatan dengan seluruh anggota keluarga mengenai waktu menggunakan media baik televisi maupun media sosial termasuk gadget, perlakukan media sebagaimana kita memperlakukan lingkungan anak yang  lainnya, berlakukan batasan dan dorong anak untuk bermain, tanamkan kepada anak bahwa screen time bukan berarti alone time, jadilah contoh yang baik bagi anak dalam menggunakan media sosial, tanamkan pentingnya komunikasi dengan bertatap muka, batasi penggunaan media untuk anak yang masih kecil, buatlah zona yang bebas teknologi di rumah (ruang baca, ruang bermain, ruang beribadah), jangan mudah menggunakan teknologi untuk membuat anak diam dan tenang,pergunakan teknologi yang ramah untuk anak,beritahu pada anak mengenai pentingnya privasi, bahaya predator online, dan konten porno, selalu berbesar hati jika anak melakukan kesalahan dalam menjalani peraturan yang telah diberikan, menanamkan nilai agama sebagai pegangan terkuat bagi anak. Jika saat ini anak-anak kita sudah terlanjur kecanduan media sosial dalam gadget, tontonan dalam televisi dan lain-lain, belum terlambat untuk memulihkan kondisi emosinya agar kembali stabil, maka lakukan Digital of detox, misalnya lakukan treatment pada anak untuk tidak menggunakan media sosial secara bertahap, mendampingi anak ketika anak menonton acara di televisi, perbanyak waktu orang tua untuk membersamai anak, melibatkan anak dalam kegiatan misalnya membersihkan rumah, membaca, memasak di dapur, membersihkan kendaraan, ciptakan situasi yang menyenangkan dalam setiap kegiatan dan senantiasa menanamkan nilai agama.

Sejatinya kita tidak dapat menghilangkan media dari kehidupan kita, karena media juga mempunyai kontribusi yang bermanfaat, akan tetapi dampak buruk dari media itu sendiri dapat diminimalisir oleh peraturan perundang-undangan oleh pemerintah ataupun norma yang disepakati oleh sebuah keluarga agak kita bijak memaknai kemajuan teknologi dan memajukan peradaban.